Jumat, 13 Januari 2017

program pengajaran membaca permulaan


Program Pengajaran Membaca Permulaan
Materi pengajaran bisa merupakan sebagai ancaman bagi kreatifitas guru. Guru dapat menjadi terlalu tergantung atau didominasi oleh materi. Jika seseorang berangkat dari premis
bahwa pengajaran yang jelek itu adalah merek dagang sekolah kita, maka materi contoh dari gurulah yang tampaknya diinginkan. Di lain pihak bila sesorang percaya bahwa para pengajar merupakan variabel yang penting di dalam situasi belajar di kelas, maka orang mungkin mengharapkan guru tersebut menjadi sumber utama input dalam strategi mengajar.
Kini jelaslah bahwa para guru tidaklah dapat dan seharusnya tidak mengembangkan semua bahan yang mereka perlukan di dalam mengajar membaca. Selain itu juga jelas bahwa materi yang diduga keras sama-sama berguna bagi semua anak ternyata tidaklah demikian. Pembelajar yang berbeda memerlukan pengajaran yang berbeda pula.
Pengertian Membaca PermulaanMembaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Pada waktu anak belajar membaca, ia belajar mengenal kata demi kata, mengejanya, membedakannyadengan kata-kata lain. Misalnya padi dan pagi, ibu dan ubi. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebisaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.
Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki keterampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan / kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis, penguasaan kosakata untuk memberi arti dan memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.
Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut. Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan.
Pembelajaran membaca permulaan di SD mempunyai nilai yang strategis bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa. Pengembangan kepribadian dapat ditanamkan melalui materi teks bacaan (wacana, kalimat, kata, suku kata, huruf/bunyi bahasa) yang berisi pesan moral, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai emosional-spiritual, dan berbagai pesan lainnya sebagai dasar pembentuk kepribadian yang baik pada siswa. Demikian pula dengan pengembangan kemampuan juga dapat diajarkan secara terpadu melalui materi teks bacaan yang berisi berbagai pengetahuan dan pengalaman baru yang pada akhirnya dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan siswa.
Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding (Anderson, 1972 : 209). Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indera visual, pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambar-gambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna.
Dasar Konseptual Membaca Permulaan
Bertitiktolak dari pengertian bahwa membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna tulisan, maka membaca permulaan merupakan usaha mempersiapkan diri pada siswa kelas I Sekolah Dasar untuk membaca tingkat lanjut. Sebagai salah satu jenis membaca, membaca permulaan ini pada dasarnya merupakan suatu keterampilan. Sebagai suatu keterampilan, kemampuan membaca permulaan ini tidak bisa dikuasai tanpa praktek atau latihan. Kemampuan membaca permulaan tidak lain adalah kemampuan mengenali dan memahami sistem lambang tulisan. Pada lambang tulisan terdapat lambang fonem, bunyi fonem, dan gugusan fonem. Inilah yang dikenali dan dipahami pada saat membaca permulaan.
Sesuai dengan namanya, membaca permulaan ini merupakan kegiatan permulaan atau dasar bagi membaca lanjut. Pengenalan dan pemahaman sistem lambang tulisan memang merupakan modal untuk bisa memahami isi wacana, memberikan pertimbangan terhadap isi wacana, memperoleh informasi secara cepat, dan sebagainya. Pemahaman isi wacana, pemberian pertimbangan terhadap isi wacana, dan pencarian informasi secara cepat berkategori membaca lanjut. Jadi jelas bahwa membaca permulaan ini merupakan langkah awal untuk bisa membaca lanjut.
Sehubungan dengan hakikat membaca permulaan yang demikian, maka yang dijadikan tujuan pembelajaran membaca permulaan adalah penguasaan kemampuan mengenali dan memahami sistem lambang tulisan. Namun demikian, karena kegiatan membaca lanjut berhadapan dengan pemahaman akan isi wacana, sementara isi wacana berkaitan erat dengan makna setiap lambang tulisan, maka pada membaca permulaan ini perlu memperhatikan pembiasaan mengenali hubungan antara lambang tulisan dan makna.
Indikator kemampuan membaca permulaan adalah mampu menyuarakan lambang tulisan secara tepat dan lancar. Ketepatan ditandai oleh kesesuaian bunyi yang diucapkan dengan bunyi yang seharusnya diucapkan.Kelancaran ditandai oleh kemulusan pengucapan, tanpa tersendat-sendat yang menggambarkan keraguan. Indikator mengenali hubungan lambang tulisan dengan makna adalah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang berkaitan dengan lambang tulisan yang dibaca. Dalam membaca permulaan ada beberapa macam metode yang dapat digunakan, macam-macam metode tersebut antara lain :
1.          Metode Abjad dan Metode Bunyi
2.      Metode Global
Metode global adalah metode yang melihat segala sesuatu merupakan keseluruhan.
Metode Struktur Analitik dan Sintetik (SAS). Dibagi menjadi 2 yaitu :
a.    Membaca Tanpa Buku
Pembelajaran dilaksanakan dengan cara sebagai berikut.
1.          Merekam Bahasa Siswa
2.    Menampilkan Gambar Sambil Bercerita
Contoh : Guru memperlihatkan gambar seorang anak yang sedang menulis, sambil bercerita, misalnya Ini Adi. Adi duduk di kursi. Ia sedang menulis surat dan seterusnya. Kalimat-kalimat guru tersebut ditulis di papan tulis dan digunakan sebagai bahan bacaan.
3.    Membaca Gambar
b.    Membaca Dengan Buku
Kesulitan Membaca Permulaan
Membaca permulaan bertitik tolak dari siswa duduk di kelas I, karena mereka baru pertama kali duduk di bangku Sekolah Dasar. Kemudian tugas mengajarkan membaca kepada siswa ada pada guru. Dalam membaca permulaan diperlukan berbagai pendekatan membaca secara tepat, seperti dengan menggunakan metode abjad, metode global, serta metode Struktural Analitik dan Sintetik (SAS).
Pada tahap membaca permulaan siswa mulai diperkenalkan dengan berbagai simbol huruf, mulai dari simbol huruf /a/ sampai dengan /z/. Caranya bergantung teknik pendekatan yang digunakan guru, yaitu dapat dimulai dari pengolahan kata dari sebagian untuk seluruh atau dari seluruh kemudian dicerai menjadi satuan bahasa terkecil yakni huruf. Jika dikalsifikasikan ada tiga karakteristik siswa yang kurang mampu membaca permulaan, yaitu dilihat dari kebiasaan membaca, kekeliruan mengenal kata, kekeliruan pemahaman
Siswa yang kesulitan membaca sering memperlihatkan kebiasaan dan tingkah laku yang tidak wajar. Gejala-gejala gerakannya penuh ketegangan seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi, menggigit bibir, adanya perasaan tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca bahkan menangis.

Indikator kesulitan siswa dalam membaca permulaan antara lain, siswa tidak mengenali huruf, siswa sulit membedakan huruf, siswa kurang yakin dengan huruf yang dibacanya itu benar, siswa tidak mengetahui makna kata atau kalimat yang dibacanya. Perlu adanya upaya dari guru kelas agar gejala-gejala tersebut dapat segera teratasi dan ini merupakan tanggung jawab seorang guru dalam mencerdaskan siswanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar