Program Pengajaran
Membaca Permulaan
Materi pengajaran bisa merupakan
sebagai ancaman bagi kreatifitas guru. Guru dapat menjadi terlalu tergantung
atau didominasi oleh materi. Jika seseorang berangkat dari premis
bahwa pengajaran yang jelek itu
adalah merek dagang sekolah kita, maka materi contoh dari gurulah yang
tampaknya diinginkan. Di lain pihak bila sesorang percaya bahwa para pengajar
merupakan variabel yang penting di dalam situasi belajar di kelas, maka orang
mungkin mengharapkan guru tersebut menjadi sumber utama input dalam strategi
mengajar.
Kini jelaslah bahwa para guru
tidaklah dapat dan seharusnya tidak mengembangkan semua bahan yang mereka
perlukan di dalam mengajar membaca. Selain itu juga jelas bahwa materi yang
diduga keras sama-sama berguna bagi semua anak ternyata tidaklah demikian.
Pembelajar yang berbeda memerlukan pengajaran yang berbeda pula.
Pengertian Membaca
PermulaanMembaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa
sekolah dasar kelas awal. Pada waktu anak belajar membaca, ia belajar mengenal
kata demi kata, mengejanya, membedakannyadengan kata-kata lain. Misalnya padi
dan pagi, ibu dan ubi. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai
teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu
guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu
menumbuhkan kebisaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.
Pada tingkatan membaca permulaan,
pembaca belum memiliki keterampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi
masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan / kemampuan membaca.
Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis.
Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi
bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat,
yaitu kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis, penguasaan kosakata untuk
memberi arti dan memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.
Pembelajaran membaca permulaan
diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan
memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar
untuk dapat membaca lanjut. Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan
proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi
visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca
(learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan
membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini
disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan
tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus
kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca
lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut
menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan
penguasaan teknik membaca permulaan.
Pembelajaran membaca permulaan di
SD mempunyai nilai yang strategis bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan
siswa. Pengembangan kepribadian dapat ditanamkan melalui materi teks bacaan
(wacana, kalimat, kata, suku kata, huruf/bunyi bahasa) yang berisi pesan moral,
nilai pendidikan, nilai sosial, nilai emosional-spiritual, dan berbagai pesan
lainnya sebagai dasar pembentuk kepribadian yang baik pada siswa. Demikian pula
dengan pengembangan kemampuan juga dapat diajarkan secara terpadu melalui
materi teks bacaan yang berisi berbagai pengetahuan dan pengalaman baru yang
pada akhirnya dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan siswa.
Membaca permulaan yang menjadi
acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding (Anderson, 1972 :
209). Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses
yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan
indera visual, pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta
kombinasinya. Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambar-gambar
bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut,
rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam
kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna.
Dasar Konseptual Membaca
Permulaan
Bertitiktolak dari pengertian
bahwa membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna tulisan,
maka membaca permulaan merupakan usaha mempersiapkan diri pada siswa kelas I
Sekolah Dasar untuk membaca tingkat lanjut. Sebagai salah satu jenis membaca,
membaca permulaan ini pada dasarnya merupakan suatu keterampilan. Sebagai suatu
keterampilan, kemampuan membaca permulaan ini tidak bisa dikuasai tanpa praktek
atau latihan. Kemampuan membaca permulaan tidak lain adalah kemampuan mengenali
dan memahami sistem lambang tulisan. Pada lambang tulisan terdapat lambang
fonem, bunyi fonem, dan gugusan fonem. Inilah yang dikenali dan dipahami pada
saat membaca permulaan.
Sesuai dengan namanya, membaca
permulaan ini merupakan kegiatan permulaan atau dasar bagi membaca lanjut.
Pengenalan dan pemahaman sistem lambang tulisan memang merupakan modal untuk
bisa memahami isi wacana, memberikan pertimbangan terhadap isi wacana,
memperoleh informasi secara cepat, dan sebagainya. Pemahaman isi wacana,
pemberian pertimbangan terhadap isi wacana, dan pencarian informasi secara
cepat berkategori membaca lanjut. Jadi jelas bahwa membaca permulaan ini
merupakan langkah awal untuk bisa membaca lanjut.
Sehubungan dengan hakikat membaca
permulaan yang demikian, maka yang dijadikan tujuan pembelajaran membaca
permulaan adalah penguasaan kemampuan mengenali dan memahami sistem lambang
tulisan. Namun demikian, karena kegiatan membaca lanjut berhadapan dengan
pemahaman akan isi wacana, sementara isi wacana berkaitan erat dengan makna
setiap lambang tulisan, maka pada membaca permulaan ini perlu memperhatikan
pembiasaan mengenali hubungan antara lambang tulisan dan makna.
Indikator kemampuan membaca
permulaan adalah mampu menyuarakan lambang tulisan secara tepat dan lancar.
Ketepatan ditandai oleh kesesuaian bunyi yang diucapkan dengan bunyi yang
seharusnya diucapkan.Kelancaran ditandai oleh kemulusan pengucapan, tanpa
tersendat-sendat yang menggambarkan keraguan. Indikator mengenali hubungan
lambang tulisan dengan makna adalah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang
berkaitan dengan lambang tulisan yang dibaca. Dalam membaca permulaan ada
beberapa macam metode yang dapat digunakan, macam-macam metode tersebut antara
lain :
1. Metode Abjad dan Metode Bunyi
2. Metode
Global
Metode global adalah metode yang
melihat segala sesuatu merupakan keseluruhan.
Metode Struktur Analitik dan
Sintetik (SAS). Dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Membaca Tanpa Buku
Pembelajaran dilaksanakan dengan
cara sebagai berikut.
1.
Merekam Bahasa Siswa
2. Menampilkan Gambar Sambil Bercerita
Contoh : Guru memperlihatkan
gambar seorang anak yang sedang menulis, sambil bercerita, misalnya Ini Adi.
Adi duduk di kursi. Ia sedang menulis surat dan seterusnya. Kalimat-kalimat
guru tersebut ditulis di papan tulis dan digunakan sebagai bahan bacaan.
3. Membaca Gambar
b. Membaca Dengan Buku
Kesulitan Membaca Permulaan
Membaca permulaan bertitik tolak
dari siswa duduk di kelas I, karena mereka baru pertama kali duduk di bangku
Sekolah Dasar. Kemudian tugas mengajarkan membaca kepada siswa ada pada guru.
Dalam membaca permulaan diperlukan berbagai pendekatan membaca secara tepat,
seperti dengan menggunakan metode abjad, metode global, serta metode Struktural
Analitik dan Sintetik (SAS).
Pada tahap membaca permulaan
siswa mulai diperkenalkan dengan berbagai simbol huruf, mulai dari simbol huruf
/a/ sampai dengan /z/. Caranya bergantung teknik pendekatan yang digunakan
guru, yaitu dapat dimulai dari pengolahan kata dari sebagian untuk seluruh atau
dari seluruh kemudian dicerai menjadi satuan bahasa terkecil yakni huruf. Jika
dikalsifikasikan ada tiga karakteristik siswa yang kurang mampu membaca
permulaan, yaitu dilihat dari kebiasaan membaca, kekeliruan mengenal kata,
kekeliruan pemahaman
Siswa yang kesulitan membaca
sering memperlihatkan kebiasaan dan tingkah laku yang tidak wajar.
Gejala-gejala gerakannya penuh ketegangan seperti mengernyitkan kening,
gelisah, irama suara meninggi, menggigit bibir, adanya perasaan tidak aman yang
ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca bahkan menangis.
Indikator kesulitan siswa dalam
membaca permulaan antara lain, siswa tidak mengenali huruf, siswa sulit
membedakan huruf, siswa kurang yakin dengan huruf yang dibacanya itu benar,
siswa tidak mengetahui makna kata atau kalimat yang dibacanya. Perlu adanya
upaya dari guru kelas agar gejala-gejala tersebut dapat segera teratasi dan ini
merupakan tanggung jawab seorang guru dalam mencerdaskan siswanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar